Talkshow & Seminar | 27 February, 2026

Universitas Bakrie Fasilitasi Diskusi Penguatan Kelembagaan, Penjaminan Mutu, dan IKU Perguruan Tinggi

Universitas Bakrie menyelenggarakan Sharing Session & Diskusi Penguatan Kelembagaan, Penjaminan Mutu, dan Indikator Kinerja Utama (IKU) Perguruan Tinggi di Auditorium Universitas Bakrie, Bakrie Tower Lantai 42 pada Jumat, 27 Februari 2026. Kegiatan ini menghadirkan Direktur Kelembagaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Prof. Dr. Muhammad Najib, S.TP., M.M., serta Kepala LLDikti Wilayah III Dr. Henri Togar Hasiholan Tambunan, S.E., M.A., dan dibuka oleh Rektor Universitas Bakrie Prof. Sofia W. Alisjahbana, M.Sc., Ph.D., IPU, ASEAN Eng. 

Kepala LLDikti Wilayah III, Dr. Henri Tambunan, menegaskan bahwa penguatan kelembagaan perlu menjadi prioritas karena berpengaruh langsung pada kualitas tata kelola perguruan tinggi dan pencapaian kinerja. “Kelembagaan yang kuat jadi fondasi tata kelola yang baik buat perguruan tinggi bisa berkembang. IKU sebagai alat untuk mengubah paradigma sehingga PT bisa berfokus pada dampak” kata Dr.Henri.

Rektor Universitas Bakrie, Prof. Sofia Alisjahbana, menyampaikan bahwa transformasi pendidikan tinggi saat ini dituntut tidak berhenti pada kepatuhan administratif. “Saat ini transformasi pendidikan tinggi tidak hanya berbicara tentang akreditasi dan kepatuhan administratif, tetapi tentang bagaimana perguruan tinggi mampu memberikan dampak nyata” ujarnya.

Ia menambahkan, forum ini difokuskan untuk memperkuat praktik implementasi IKU berbasis dampak di tingkat institusi. “Forum hari ini menjadi momentum untuk menyelaraskan visi, memperkuat kolaborasi, dan berbagi praktik baik dalam implementasi IKU berbasis dampak” kata Prof. Sofia. Menurutnya, penguatan kelembagaan dan penjaminan mutu menjadi investasi jangka panjang untuk memperkuat daya saing, sekaligus memastikan IKU dibangun melalui sistem yang terukur dan berkelanjutan.

Dalam paparannya, Prof. Muhammad Najib menekankan fungsi IKU sebagai instrumen manajemen kinerja institusi dan pengungkit perbaikan berkelanjutan. “IKU berfungsi sebagai alat ukur kinerja institusi, dasar pengambilan keputusan, instrumen akuntabilitas, dan penggerak budaya kinerja” ujar Prof. Najib. Ia juga menekankan pentingnya konsistensi implementasi agar pengukuran kinerja tidak berhenti pada pelaporan, tetapi menjadi alat perbaikan. “What gets measured gets improved” katanya.

Diskusi turut membahas isu yang kerap muncul dalam implementasi penjaminan mutu internal (SPMI), antara lain kesenjangan antara dokumen dan pelaksanaan, audit mutu yang sekadar formalitas, serta kurangnya integrasi data dan keterkaitan SPMI dengan IKU. Dalam forum ini, peserta juga mendalami langkah-langkah penguatan SPMI, termasuk integrasi SPMI dengan perencanaan strategis, digitalisasi dokumen dan monitoring, audit mutu berbasis risiko, pelibatan seluruh unit kerja, serta insentif berbasis kinerja mutu.

Kegiatan ini dihadiri pimpinan dan perwakilan perguruan tinggi, termasuk pengelola penjaminan mutu, di bawah koordinasi LLDikti Wilayah III Jakarta. Forum dirancang sebagai ruang penyelarasan kebijakan, berbagi praktik, dan diskusi terarah untuk mengidentifikasi isu strategis dan merumuskan rekomendasi yang relevan untuk penguatan tata kelola serta budaya mutu di perguruan tinggi.

Sebagai tindak lanjut, Universitas Bakrie menyatakan komitmennya untuk terus membuka ruang kolaborasi dan pertukaran praktik antarperguruan tinggi, khususnya terkait penguatan kelembagaan, penjaminan mutu, dan implementasi IKU yang berorientasi dampak. 

«Back to News